SDM Musisi Naik, Labuan Bajo Siap Produksi Konten Lokal Berkualitas

IMG-20210603-WA0027

Bagikan:

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on email

LABUAN BAJO – Konten musik lokal kreatif dan berkualitas akan bermunculan dari Nusa Tenggara Timur (NTT). Sebab, skill para musisi lokal dinaikan Kemenparekraf/Baparekraf melalui program Pelatihan Musicpreneur di Labuan Bajo, NTT, 2-3 Juni 2021. Program ini diinisiasi oleh Deputi Bidang Sumber Daya dan Kelembagaan c.q Direktorat Pengembangan SDM Ekonomi Kreatif.

“Potensi besar dimiliki musisi lokal di NTT. Sebab, mereka memiliki budayanya sendiri yang khas. Tinggal dipoles agar bisa diterima pasar lebih luas dan semakin menjadi daya tarik wisata di sini,” ungkap Deputi Bidang Sumber Daya dan Kelembagaan Kemenparekraf/Baparekraf Wisnu Bawa Tarunajaya.

Menguatkan industrialisasi musik digital, program Pelatihan Musicpreneur memang mampu menyita animo musisi di Labuan Bajo dan sekitarnya. Buktinya, pesertanya yang terdiri dari musisi NTT memenuhi kuota 50 orang. Pada awalnya jumlah peserta yang mendaftar mencapai 85 orang sebelum akhirnya dikurasi.

Tetap menjalankan protokol kesehatan secara ketat, 50 peserta Musicpreneur memiliki background beragam. Ada musisi murni, pelaku musik bidang produksi, hingga manajemen musik. Selain Labuan Bajo, mereka juga datang dari Kupang, Ruteng, dan Ngada.

“NTT akan semakin produktif. Menghasilkan banyak karya musik lokal sesuai dengan selera pasar. Pelaku industri musik NTT juga bisa melebarkan sayap bisnisnya lebih luas lagi. Sebab, mereka sudah mendapatkan pengetahuan bisnis yang cukup,” terang Direktur Pengembangan SDM Ekonomi Kreatif Erwita Dianti.

Menguatkan inspirasinya, Pelatihan Musicprenuer Labuan Bajo menghadirkan 4 narasumber. Ada musisi terkenal Dwiki Dharmawan dan Direktur Hak Cipta dan Desain Industri Kemenkumham RI, Dr Syarifuddin. Bergabung juga Managing Director Massive Music Irfan Aulia, hingga CEO Musicbalst.id & Direktur Digital Platform Fesmi Bayu Randu. Experience peserta semakin lengkap karena diajak praktek menciptakan lagu dengan konten lokal dan cara produksi musik.

BACA JUGA :  Pajak Pulsa dan Kartu Perdana Tidak Berlaku Bagi Pedagang Eceran

“Wawasan musisi lokal NTT semakin bertambah. Mereka mendapatkan pengetahuan baru melalui paparan materi para narasumber. Kemampuan mereka semakin lengkap karena diajarkan juga cara terbaik dalam produksi musik. Mereka tetap produktif di masa pandemi Covid-19,” papar Koordinator Edukasi III, Toar RE Mangaribi.

Selain menaikan kapasitas SDM, program Pelatihan Musicpreneur memiliki posisi strategis. Sebab, menjadi saluran branding destinasi wisata di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur sebagai Destinasi Super Prioritas. Pada pelatihan itu, Dwiki Dharmawan menjelaskan industri musik di era digital sekarang ini cenderung lebih mudah dibandingkan di zamannya dulu. Menurutnya, para musisi termasuk musisi local saat ini punya media promosi relatif lebih banyak, murah, dan mudah diakses.

Dari segi hak kekayaan intelektual, Dr. Syarifuddin menjelaskan HKI penting dipahami pelaku musik karena terdapat hak ekonomi dalam bentuk royalty. Termasuk performing right atau hak pengumuman untuk mengizinkan diputar/didengarkan di tempat-tempat umum. Irfan Aulia menambahkan musisi tak boleh melupakan keberadaan music publisher dan kemudian mendaftarkan karyanya. Dimana dengan cara itu musisi terutama komposer musik bisa melindungi karyanya untuk mendapatkan royalti.

CEO Musicbalst.id & Direktur Digital Platform Fesmi Bayu Randu mengatakan, seluruh elemen dalam ekosistem musik membutuhkan kolaborasi kuat. “Menjadi musicpreneur bukan berarti semua dilakukan sendiri. Tetap membutuhkan kolaborasi dari seluruh rangkaian produk musik. Dilakukan bersama-sama mulai Praproduksi, Produksi, Distribusi, Promosi. Dari situ tercipta ekosistem yang mandiri,” tutup Bayu.(***)

Bagikan:

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on email

Baca Juga