Rohingnya di Aceh menuturkan pengalaman ‘diselundupkan’ dari Bangladesh, ‘Semua tak mau mati, makanya saya berbohong’

_113133595_antarafoto-warga-nelayan-evakuasi-paksa-pengungsi-etnis-rohingya-250620-rmd-1

Bagikan:

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on email

Salah seorang dari 99 orang etnis Rohingya yang menjadi korban sindikat penyelundupan menceritakan pengalamannya selama empat bulan di laut sebelum akhirnya sampai ke Aceh.

Pengungsi Rohingnya ini menyebut ia adalah korban penipuan orang Bangladesh – dijanjikan ke Malasysia – namun akhirnya tiba di Aceh.

Pengungsi yang enggan disebutkan namanya ini mengatakan sempat berbohong kapal mereka rusak untuk menyelamatkan diri.

“Sebenarnya saya sudah mau jujur dari pertama, kalau kapal kami bukanlah rusak dan tenggelam, tapi semua orang tidak mau mati, makanya saya berbohong,” kata pengungsi pria ini.

Polda Aceh pada Selasa (27/10) menyatakan sudah menangkap empat dari enam orang yang diduga bagian dari sindikat penyelundupan itu.

Kasus yang diungkap adalah penyelundupan 99 orang etnis Rohingya yang tiba di Lancok, Kabupaten Aceh Utara, pada Juni 2020.

Aktor utamanya diduga orang Rohingya yang telah lama tinggal di Medan di bawah akomodasi Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM).

Dalam konferensi pers yang berlangsung di Mapolda Aceh, Selasa (27/10), Kepala Direktorat Reserse Kriminal Umum, Kombes Sony Sanjaya, mengatakan AR merancang penjemputan ke-99 orang etnis Rohingya yang berada di tengah laut.

“AR merupakan orang Rohingya yang juga aktor dari penjemputan 99 orang lainnya. Sedangkan AJ warga lokal yang ikut membantu AR. Kini keduanya masih dalam Daftar Pencarian Orang (DPO),” kata Kombes Sony Sanjaya sebagaimana dilaporkan Hidayatullah, wartawan di Aceh yang melakukan reportase untuk BBC News Indonesia.

Pihak Kepolisian Daerah Aceh mengumpulkan barang bukti berupa dua unit HP, GPS MAP-585 warna hitam, kapal nomor lambung KM Nelayan 2017-811 (10 GT) telah dipinjam pakai oleh ketua koperasi, dan surat sewa menyewa kapal dari Koperasi Samudra Indah Aceh Utara.

Pengakuan orang Rohingnya yang ‘diselundupkan’ ke Aceh

rohingya
Keterangan gambar,Orang-orang etnis Rohingya ditemukan terdampar sekitar empat mil dari pesisir Pantai Seunuddon, Kabupaten Aceh Utara, pada Rabu (24/06).

Hidayatullah, wartawan di Aceh yang melaporkan untuk BBC News Indonesia menemui seorang Rohingnya yang bersedia bercerita mengenai bagaimana ia ‘diselundupkan’ dari Bangladesh. Identitasnya kami samarkan atas alasan keselamatan.

Pada 25 Juni lalu, ketika pertama kali menginjakkan kaki di daratan Aceh Utara, ia sempat diwawancarai namun berbohong terkait asal mula kedatangannya.

Kini, ketika ditemui setelah polisi merilis kasus dugaan penyelundupan 99 orang etnis Rohingnya ke Aceh, ia menceritakan bagaimana ia kabur dan mengapa sebelumnya dia menutupi fakta keberangkatannya.

“Saya sudah lama ingin jujur, tapi semua orang mau hidup, tak mau mati, makanya saya bohong soal berapa jumlah kami sebenarnya dan berapa banyak kapal yang berangkat,” kata orang Rohingnya yang mampu berbahasa Melayu ini.

Jejak perjalanan dari Cox’s Bazar di Bangladesh

Setelah tinggal beberapa tahun di tempat pengungsian di Cox’s Bazar di Bangladesh, ia merasa kondisi ekonomi, kesehatan,dan pendidikan sudah tidak lagi memungkinkan. Kondisi yang mendorong orang-orang Rohingnya untuk keluar dari Cox’s Bazar

Saat itulah, ia dihubungi oleh seseorang melalui sambungan telepon yang menawarkan pergi ke Malaysia. Ia dijanjikan bisa hidup lebih layak dan mendapatkan pekerjaan yang baik, sehingga bisa menghidupi keluarga.

Ia bersama dengan beberapa orang lainnya lalu dijemput oleh seorang agen yang tidak diketahui namanya dan dibawa ke sebuah rumah. Ia tinggal di sana beberapa hari, sambil mencari uang untuk membayar biaya ke Malaysia.

Bagikan:

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on email

Baca Juga