Bertahan di Masa Pandemi, Desainer Hetty Sinaga Berjuang Demi Penenun

IMG_20210127_220344

Bagikan:

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on email

JAKARTA – Pandemi Covid-19 tak dipungkiri menghantam sejumlah sektor. Salah satunya adalah ekonomi kreatif sub sektor desainer. Betapa tidak, pandemi membuat mereka harus berfikir keras agar produk mereka bisa diterima pasar. Namun, jauh yang lebih besar dari upaya mereka bertahan adalah memperjuangkan nasib para penenun. Hal itulah yang menjadi semangat desainer Hetty Sinaga untuk terus bertahan di masa pandemi saat ini.

 

Ditemui wartawan di gerainya di Kuningan City Mall Jakarta Selatan, Hetty bercerita jika ia harus keluar kocek cukup mahal bertahan demi nasib para penenun jejaringnya. “Penenun itu menangis. Mereka meminta produknya dibeli. Mereka kesulitan membeli makan. Saya sebagai desainer tergerak membantu memasarkan produk mereka,” kata Hetty, Kamis (28/1/2021).

Diakuinya, pandemi membuatnya sebagai desainer harus memutar otak agar karyanya bisa diserap di pasaran. “Tenun itu beda dengan batik target marketnya. Tenun ini buatnya lama, beda dengan batik. Jadi kalau kita desainer tidak tidak buat (karya) lalu siapa yang mau pakai,” ujarnya.

Hetty berusaha keras agar perushannya yang diberi nama “Damiten” terus bisa bertahan di masa pandemi ini. Meski cukup sulit, namun Hetty berusaha sekuat tenaga. “Saya mencoba bangkit di masa pandemi. Kasihan penenun. Kita sedang memikirkan agar tenun ini terjual dan si pengrajin naik harkat, derajat dan martabatnya. Saya bukan desainer terkenal, tetapi kepedulian saya terpanggil. Sosial-preneur saya bangkit membantu penenun,” ujar dia.

Inovasi yang dilakukan Hetty adalah membuat karya yang bisa menembus pasar milenial. Ya, di matanya tenun harus familiar menjadi produk keseharian yang bisa dipakai anak muda dalam berbagai macam situasi. Sebab, kata dia, anak muda adalah harapan penerus bangsa ke depan.

BACA JUGA :  Ekspor Perdana PT Master Kidz Jadi Angin Segar untuk Perekonomian

“Saya desain saja agar orang bisa pakai. Kalau kain saja orang tidak bisa pakai. Kalau sudah dibuat produk seperti ini orang bisa pakai. Dailyware, cuma effort-nya tinggi banget. Tidak semua orang mau memakai tenun. Lalu bagaimana caranya, artinya kita harus berkolaborasi dengan pemerintah,” papar Hetty.

Salah satu usulannya, Hetty meminta kepada pemerintah untuk juga memperhatikan tenun. Misalnya menggunakan tenun pada waktu tertentu di hari kerja. “Mereka juga harus pakai tenun, jangan hanya batik saja. Harus juga ada tenun day. Indonesia itu tenunnya luar biasa. Kaya banget harus dilestarikan juga jangan hanya batik. Sayang loh penenun ini hampir punah. Harus kita angkat,” ujarnya.

Awal mula kecintaannya terhadap tenun tumbuh manakala Hetty jatuh hati pada kain tradisional tersebut. Sejak itulah ia mulai mengikuti berbagai komunitas pecinta tenun dan sebagai desainer memamerkan karyanya di berbagai daerah, bahkan luar negeri. “Saya menciptakan produk bagaimana tenun bisa diterima generasi muda. Kalau generasi muda tidak diikutsertakan, bagaimana nasib tenun ke depannya,” tutur dia.

“Saya melawan arus saja. Kita arus benar-benar berani mati saja. Semua ini karena kecintaan saya kepada budaya. Sebetulnya saya juga suka batik. Kalau batik semua sudah tahu. Saya lihat tenun bagus, tapi kok jarang yang angkat. Harganya kan bisa kita murahin bahan-bahannya,” tambahnya.

Ke depan, Hetty berharap kepada pemerintah agar membuat inovasi untuk terus mengangkat tenun Indonesia. “Angkat terus mereka para pengrajin tenun ini. Misalnya dengan cara disubsidi atau materialnya dibuat murah agar mereka bisa bertahan,” demikian Hetty.(***)

Bagikan:

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on email

Baca Juga