Berkah Pandemi, Omset Ekspor Cau Cokelat Meningkat Tajam Hingga Berhasil Ekspor

IMG_20210815_111536

Bagikan:

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on email

JAKARTA – Siapa yang tidak kenal cokelat? Makanan yang merupakan hasil olahan dari tanaman kakao ini sangat digemari. Peluang ini yang sukses dimanfaatkan Duta Petani Milenial Kementerian Pertanian asal Denpasar, Bali, Kadek Surya Prasetya Wiguna. Tidak hanya sukses meraih omset fantastis tetapi juga kini produknya tembus ekspor ke mancanegara.

Di tangannya, produksi kakao di Indonesia mengalami peningkatan, khususnya di Desa Cau, Bali. Kadek pun mampu mengolah kakao lewat PT Cau Chocolate Bali yang didirikannya.

Apresiasi diberikan Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo. Menurutnya, Indonesia membutuhkan banyak petani milenial.

“Saat ini total petani Indonesia sebanyak 71 persen berusia 45 tahun ke atas sedangkan yang di bawah 45 tahun sebanyak 29%,” kata Mentan.

Ke depan, petani dan kelompok tani diharapkan dapat menggarap sektor hulu hingga hilir baik on-farm maupun off-farm. Yakni meliputi pengolahan pasca panennya, sampai ke packaging dan trading produk sehingga produk pertanian bisa dilakukan lintas negara dengan demikian petani memiliki peluang yang lebih besar.

“Kita harus tahu persaingan produk pertanian sekarang sudah lintas negara. Petani Indonesia harus kompetitif dalam keterampilan teknis, pemanfaatan model bisnis, model bisnis dan manajemennya,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi, mengatakan sektor pertanian sangat strategis untuk ketahanan perekonomian bangsa dan negara.

Oleh karena itu, perlu upaya seluruh jajaran untuk dapat bersama-sama mengelola pertanian di setiap daerah mulai dari desa hingga nasional.

“Pertanian sangat menjanjikan menghadirkan kehidupan yang lebih baik bagi bangsa dan rakyat. Hadirnya DPM/DPA diharapkan mampu menciptakan penguatan resonansi bagi para milenial lainnya untuk berkecimpung di sektor pertanian,” tutup Dedi.

BACA JUGA :  Mudah Berikan Label Radikal, Yaqut Minta Masyarakat Lebih Dahulukan Tabayun

Kadek Surya Prasetya Wiguna yang juga sebagai Entrepreneur Heroes BNI, mampu menginspirasi petani muda lainnya. Bagaimana tidak, Kadek rela meninggalkan posisi nyaman dengan gaji puluhan juta di sebuah Bank BUMN dan beralih profesi menjadi petani.

Milenial yang mampu menyelesaikan pendidikan S1 ekonomi dalam waktu 2,5 tahun ini kini menjadi Chief Executive Officer (CEO) PT Cau Chocolate Bali.

Kadek Surya Prasetya mengatakan  pertanian menjadi salah satu peluang bisnis yang sangat menjanjikan. Pertanian menjadi sektor yang tetap stabil dan berkelanjutan dalam berbagai situasi.

“Melihat usaha yang telah saya dan ayah saya jalankan memiliki peluang yang cukup tinggi, maka saya memutuskan untuk fokus menggeluti bisnis Cau Chocolate ini,” jelas Kadek.

Kakao memiliki potensi pertanian yang memiliki peluang pasar internasional. Bahkan Indonesia sempat menjadi pemilik kakao terbaik nomor 3 di dunia. Namun sayang pada tahun 2017, posisi Indonesia sebagai pemiliki kakao terbaik berada di nomor urut 6 di dunia.

Menyikapi persoalan ini, pihaknya kemudian melakukan beberapa terobosan.

“Komoditas kakao ditentukan oleh harga dunia sehingga dengan mengetahui standar dunia maka petani bisa menjual kakao mengikuti standar harga dunia. Akan tetapi, katanya, pada kenyataanya, petani hanya menerima 70 persen dari standar harga kakao dunia akibat panjangnya rantai distribusi,” papar Kadek.

“Petani tidak benar-benar bisa menjual kepada pabrik, maka dari itu, Cau Chocolate berposisi untuk memutus rantai distribusi ini. Saat ini petani dapat menjual kakao kepada koperasi petani, lalu masuk ke Cau Chocolate. Dengan terpotongnya rantai distribusi, harga yang diterima petani tidak lagi 70 persen tetapi mencapai 90 persen.  Saat ini Cau Chocolate disupport  oleh  600 orang petani berada di Tabanan dan Jembrana. Dan 200 di antaranya telah bersertifikasi organik,” jelasnya.

BACA JUGA :  Isu Kudeta Dianggap Dagelan, Partai Demokrat Makin Ngegas

“Awalnya kami lebih fokus memenuhi permintaan dalam negeri khususnya oleh oleh (gift), namun dengan menurunnya wisatawan hingga 99% ke Bali, maka mau tidak mau CAU Chocolates harus berani mengambil perubahan strategi, salah satunya dengan membuka pasar domestik (diluar Bali) dan melakukan perdagangan secara ekspor.  Sebelum pamdemi market share untuk ekspor hanya sekitar 10%, namun disaat pandemi penjualan CAU Chocolates melalui ekspor naik hingga 50 SD 60% dari total omset,” ungkap Kadek.

Saat ini Cau chocolates merupakan satu-satunya coklat Indonesia yang telah meraih organik sertifikat dari badan terakreditasi milik pemerintah Indonesia, Amerika (USDA) dan Eropa (EU).

Karena itu, tak heran bila di periode Januari – Juni 2021 PT. Cau chocolates berhasil mengekspor 4.2 ton olahan cokelat baik berupa cocoa powder, NBS, butter, coconut sugar serta dark chocolate ke 5 negara tujuan ekspor yakni Malaysia, Brunei, Singapura, Qatar serta negeri sakura Jepang. Bila di konversikan ke rupiah total ekspor PT Cau Chocolate dalam 6 bulan mencapai Rp 1.265 M.

Untuk kualitas, pihaknya selalu memastikan kualitas produk telah sesuai dengan standar internasional.

“Pada prinsipnya ketika kita bicara ekspor yang paling utama ada standar kualitas. Kami di Cau Chocolates telah memiliki banyak sertifikasi seperti Organik Indonesia, Organik Eropa, halal, GMP. BPOM, ISO 9001:2015,” katanya.

Sementara dalam kegiatan ekspor, Kadek mengatakan Cau Chocolates juga bekerja sama dengan banyak pihak, baik pemerintah dalam ini Kementerian terkait serta  perbankan. Dirinya juga memanfaatkan platform digital untuk memasarkan produknya ke luar negeri.

Cau chocolates tidak hanya terlibat dalam pelestarian kakao organik sebagai kegiatan utamanya, Cau Chocolates juga berkomitmen menjaga alam dan budaya Bali melalui kegiatan – kegiatan yang melibatkan masyarakat sekitar,  salah satunya adalah memberikan ruang/akses kepada anak – anak untuk melakukan kegiatan yang terkait degan pengembangan budaya bali sebagai roh utama dalam pariwisata di bali.

BACA JUGA :  KSPI Minta Kemendag Buat Kebijakan Anti Dumping Demi Industri Baja Dalam Negeri

Setelah dikukuhkan menjadi Duta Petani Milenial (DPM), bersama Kementerian Pertanian (Kementan) Kadek dan rekan DPM/DPA lainnya berupaya untuk meresonansi generasi muda diseluruh Indonesia agar bersama-sama meningkatkan pembangunan pertanian bahkan hingga tembus pasar dunia.

Bagikan:

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on email

Baca Juga